kini, aku lah patung bagimu


It's a quarter after one, I'm a little drunk and I need you now
Said I wouldn't call but I lost all control and I need you now
And I don't know how I can do without
I just need you now
Lady Antebellum - Need You Now

Pernah mendenganr cuplikan lagu itu? Aku merasa aku dalam cuplikan lagu itu. Jangan tanyakan hari ini aku siapa dan jangan beritahu esok aku siapa. Ini lah aku sebenarnya yang tak mengerti siapa aku sebenarnya.  Tidak ada yang mengerti tentang detik berikutnya, begitu pun bagaimana tuhan bercerita tentang dongeng yang ku anggap romantis sebelumnya. aku salah menganggap bahwa dongeng yang tuhan berikan kepadaku akan selalu pada scene yang romantis. Aku juga salah terka tentang lelaki dalam dongeng romantisku. Entahlah neuron-neuron diotakku sedang tak ingin bekerja untuk memikirkan hal itu. Tapi perasaan yang memaksaku untuk bergerak memperbaiki tiap denotasi dongengku.
Dan kepada hujan sore ini. dapatkah kamu menjelaskan apa yang aku lihat sekarang ? apakah ini hanya rekayasa langit saja ? atau apakah ini langit yang konkret ? terlalu banyak kata apakah di pikiranku. Muak ? tentu. Jangan hanya melantunkan melodi yang menderu dengan angin.  Aku hanya butuh kejujuranmu saja untuk menjawab, bukan metafora yang menjemukan. Aku lelah pada lelaki itu !
Percuma saja, aku bertanya padamu sama seperti aku bertanya pada benda mati lainnya. Menyalahkanmu itu menyenangkan saja bagiku, karena kamu tak pernah merespon caraku untuk menyalahkanmu. Yang benar saja, memang aku semu dan nyataku tak penting bagimu. Lalu bagaimana selanjutnya tentangku dan tetangmu nanti, tentang kita ?

Category: 0 komentar

kamu (lagi)


Aku kembali menuliskan tentang kamu. Kamu yang ada dihidupku 472 hari yang lalu. Bukan karena aku yang mudah terhalusinasi tentang bayangmu, tapi karena hari itu memang terlalu pahit untukku. kali ini aku bukan menuliskan tentang pahit itu, melainkan momen saat kita berbagi cerita manis di hari sebelum pahit itu datang. Walaupun tak seharusnya aku menuliskan ini. aku telah memiliki rangkaian cerita lain yang sedang aku jalani dan kamu pun juga. Kita sudah tak lagi bersapa sayang seperti dulu. Hingga detik ini, aku merasa kamu yang bisa menerima semua fantasiku. Banyak sakit yang aku terima darimu tapi itu lebih baik dari pada aku harus berpura-pura menjadi sosok yang hanya tertuju pada realita.
Apa kamu pernah sesekali memikirkan tentang aku yang kamu sebut mantan ? apa di punggungmu masih ada tatto yang kita buat bersama ? sepasang kura-kura yang kita pelihara bersama ? masih hidupkah? Ingat juga bagaimana payahnya kita menuju lantai tertinggi pencakar langit. Hanya untuk melihat lampu kota yang berkelip ditengah malam dan diakhiri dengan kecup romantismu serta tawa hangat kita? Ingin tertawa rasanya tapi selalu ada selip tangis didalamnya. Selalu ada seri takdir yang rumit.
Aku masih menyimpan semuanya. Semua tentangmu. Tulisan tanganmu, gambar lucumu, senyum di fotomu, suaramu, denting piano yang kamu mainkan untukku, hmm.. terlalu banyak yang aku simpan tentangmu sayang. Hmm, salahkah jika saat ini aku memanggilmu sayang (lagi)?
Category: 0 komentar

masih kamu, KEJORA

Kejora, apa kabarmu ? aku merindukan terangmu. Maafkan aku karena aku sempat membenci seluruh manifestasi langit, termasuk dirimu. Aku ingin bercerita tentang aku kini dan aku mohon jangan berpura-pura tuli untuk malam ini. Masih ingat dengan langit bisu yang pernah aku ceritakan dulu ? Yang memberiku implisit sayang dan aku sempat lelah untuk menunggu sayang itu menjadi sesuatu yang rill ? Dia telah katakan dan buktikan semua sayangnya kepadaku. Bukankah seharusnya aku bahagia karena moment inilah yang aku tunggu selama ini. walaupun aku sempat leleh karena kecup sayangnya di keningku, tapi tak lama kemudian semuanya kembali membeku. Aku telah menuruti semua yang pernah kamu katakan, sayangilah orang yang menyayangimu, tapi nyatanya kejora, aku tak bahagia dengan itu semua. Sering aku melihat kedua bola matanya dan bertanya-tanya, apakah ia tak menyayangiku dengan tulus hingga aku merasa ragu ? Sudah coba untuk memasuki ruangnya, memberikan bucket bunga disana sini, memberikan hiasan-hiasan manis, tapi, aku tetap merasa ruang ini kosong. Kejora, apa aku sama denganmu sekarang, apa kita sedang pada keadaan yang sama kejora ? pernah kamu mengalami hal ini dengan bintang kecilmu ? Taukah kejora, aku telah menghabiskan banyak malam untuk bermain bersama jiwa hening, disana aku berikir tentang skenarioku kini. Kejora, apa aku sekarang salah bersikap ? egoku luapkah ? atau aku salah menaruh sayang ? Banyak khayal yang terbuang sia-sia dan banyak realita yang mendidih. Sungguh, aku lelah kejora.  Kejora, sampai kapan aku meng-elukan namamu ditengah sayang langitku ? Kepada siapa aku harus memberi kunci ruang yang aku tempati kini ? bagaimana aku bisa berjalan menuju terangmu ?
Kamu juga pernah mengatakan, terkadang ada bahagia yang tak pernah bisa kita representasikan, tapi, aku sekarang tak tahu sebenarnya aku sedang berada dikondisi bahagia yang mana.  Bahagia semu mungkin. Sebentar ada, sebentar hilang. Lihat kejora, mataku kini sering berembun. Entahlah, semua jadi begitu kelu. Sudah berusaha untuk menginggalkan surga yang aku ciptakan sendiri. Tapi sia-sia, aku kembali lagi merangkai surga buatan itu. Hahhh ! langit tak pernah mengerti dengan sangkarku, bebasku. Kejora, aku ingin malam ini saja pedulikan aku. Agar aku merasa bahagia dan tak mengicipi surga bualan itu. Salahkah jika aku sempat berfikir untuk menghabiskan malam bersamamu, ketika bintang kecilmu dan langitku sedang tertidur lelap ? Pinjamkan aku bahumu dan perdengarkan aku dengan alunan melodimu. Lalu setelah aku terlelap, kembalilah kamu pada bintang kecilmu dan kembalikan aku pada langitku. Kejora, jangan pernah tanyakan perbandingan sayangku terhadap langit dan dirimu, aku menyayangimu dengan implementasi yang berbeda dan hanya Tuhan yang tahu eksekusi tentang teka-teki manifestasi langit. Hanya ada kepekaanku untuk merangkai angan-angan. Karena aku manusia penuh khayalan dan langit hanya terpaku pada realita. Ia patuh dengan mentari terbit dan terbenam, langit kelabu dan biru. Lalu bagaimana aku menyatukannya ?
Category: 1 komentar

kamu


kamu yang hening dalam pantulan kaca jendela. Masih berharap kalau kamu ingin bagi bahagia dengan dia, dia yang dulu kamu sebut kasih. Entah dalam leksikal sesal atau tidak, kamu menggenggam kunci ruang itu dalam saku jaketmu. Terlihat samar guratan-guratan angan dalam setiap bilik ruang, angan yang pernah kalian ikat dalam partikel mati. Masih dalam pantulan jendela, kamu berfikir dalam, mencoba menyelusuri angan itu. Perapian sayup terlihat terangnya. Perempuan manis dengan gaun merah. Senyum kecil terkadang ia padukan dengan tawa palsunya. Iya, benar. Itu perempuan yang pernah kamu sebut kasih. Bersama kasih lain ia berharap bertemu dengan bahagia baru. Tapi, apakah dia temukan bahagia baru? Apakah ketika iya bertemu bahagia baru akan lebih dari bahagia yang pernah kamu beri ?
Kamu berjalan, hingga kini berhadapan dengan pintu ruang itu. Kamu ingin mengetuknya. Lalu apa yang kamu harap setelah ketukan itu ? berharap jika ia membukakan pintu lalu mengenalkan kasihnya padamu ? atau berharap ia memberimu senyum termanisnya lalu menyembunyikan kasihnya darimu ? klise.
Ketika rumit itu ada, ketika langkah itu telah berhenti pada persimpangan, saat itulah kongklusi itu nyata. Imajinasimu melayang entah kemana hingga mencapai fiksi klimaks, tapi realita terus menggerus rongga faktamu. Kamu dalam siluet senja, pejamkan matamu dan berfikirlah untuk malam. Berikan sayang yang nyata pada kasih, bukan hanya terpaku berhadap pintu ruang semu.


Category: 0 komentar

siapa ? apa ?


Malam yang pernah sepi itu telah hilang saat ini. ada seseorang yang tiap malam aku rindukan. Bukan, bukan kejora yang biasa aku rindukan. Ini makluk yang berbeda. Aku bingung menamai rasa apa yang aku rasakan pada mahluk ini. setiap aku dekatnya, ingin hentikan pasir yang terus bergerak turun mengikuti gerak gravitasi. Ada yang salah denganku ? apakah aku terlalu berlebihan untuk mengutarakan rasa yang aku rasakan ? Dikala kisahku telah sampai sketsamu. Terlalui dengan penuh rasa bahagia. Dan ketika aku tak sempat untuk berfikir tentang akhir dari kisah ini. sesungguhnya aku bingung apakah ini adalah sebuah klimaks atau ini adalah sebuah kongklusi kalau kamu bukan kejora yang aku inginkan. Air teh ini tak akan mungkin mengisi ruang kosong dalam cangkir kalau tak ada orang yang sengaja mngisi liquid itu kedalamnya. Apakah hal itu sama dengan apa yang aku rasa sekarang? Ruang kosong hati ini telah ada yang memenuhi. Entah siapa kepda siapa aku harus mengtakannya. Kepada  langitkah ? atau hujan ? ini adalah lara yang tertunda atau apa? aku tak pernah tahu.
Kamu, dekatlah. Genggam jemariku yang sedari tadi membeku. Arteriku tak mampu mengalirkan darah sampai ke ujung tubuhku. Ini, disini. Didadaku, dengarkan detak jantungku yang berdegup kencang. Aku belum sepenuhnya mengerti tentang arti rasa ini. yang aku tau hanyalah aku nyaman berada didekatmu. Kamu mengarahkanku pada pelangi yang selama ini aku anggap semu. Membuka pupil mataku untuk melihat mentari yang sebelumnya kelabu tertutup mendung.
Karena kini aku telah lelah, batinku ini sudah tak tahan lagi. perih ini sudah tak terbatas. Ketika sayapmu melebar, siap untuk mengepakan dan terbang jauh menuju angkasa lain, bolehkah aku untuk ikut bersamamu, terbang menyusuri langit biru bersama gumpalan awan. Melihat bintang dan manifestasi langit malam ? menikmati tiap butir hujan dan bersandar di ujung lingkaran pelangi. Maukah kamu untuk mengabulkan permintaanku ?
Warna itu kapan datangnya. Ajari aku bagaimana memainkan warna itu hingga menjadi pelangi. Boleh aku minta padamu untuk terus memberikan warna itu dalam hidupkku. Buat bahagiaku bertambah tiap detiknya dengan warna itu. Jangan, jangan beri warna kelabu apalagi hitam. Aku tak suka. Biarkan warna-warna mewarnai hati kita berdua dengan ekspetasi warna yang tak terduga.

Category: 0 komentar